Secangkir Kopi untuk Pencari Inspirasi

21.11 Rachman Reza Ahari 2 Comments



Sudah sejak lama kopi menjadi komoditi unggulan Indonesia, dengan iklim Tropis dan kontur wilayah Indonesia yang didominasi dataran tinggi membuat tanaman kopi dapat tumbuh subur. Ketinggian 400 hingga 2.000 mdpl (meter di atas permukaan laut) adalah ketinggian paling ideal untuk menanam kopi, dengan suhu lingkungan pada daerah tersebut berkisar 15-25° Celcius pertumbuhan tanaman kopi akan berlangsung lebih baik.

Buah Kopi Arabika - kopidewa.com

Dengan kekayaan alam Indonesia seperti saat ini, rasanya lucu jika harus jauh ke luar negeri hanya untuk mencari kenikmatan dari secangkir Kopi. VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) saja rela jauh- jauh datang ke Indonesia untuk memanen paksa (Contingenten) kopi dari para petani Indonesia. Sayang sekali pada saat itu petani kopi Indonesia khususnya Pulau Jawa tidak dapat menuai manis dari pahit kopi yang mereka panen, karena buah kopi mereka dihargai rendah oleh VOC.


 Dokumentasi Perkebunan Kopi Priangan Jawa Barat - kopidewa.com

Di satu sisi, perlakuan VOC meninggalkan luka di hati para petani kopi, di lain sisi VOC pula yang membuat kopi Pulau Jawa mendunia. Bahkan VOC pernah menguasai perdagangan kopi dunia dengan menggeser Yaman yang telah lama menduduki raja dari pasar kopi global pada waktu itu (Abad ke-18).

Terkenalnya Kopi Jawa membuat perusahaan Sun Microsystems yang kini menjadi Oracle menamai bahasa pemrograman yang mereka kembangkan dengan nama Java lengkap dengan logo bergambar secangkir Kopi, memang pada waktu itu kopi dari pulau Jawa banyak digemari di sana. Toh memang kurang lengkap rasanya bekerja jika tidak ditemani secangkir Kopi.

Sangat bangga rasanya karena Kopi dari Indonesia bisa menjadi Logo dari bahasa pemrograman yang paling sering digunakan yaitu bahasa Java.



Menurut data dari Organisasi Internasional Kopi, Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar keempat di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Jika ditotal, setidaknya ada sekitar 15 daerah di Indonesia yang dikenal sebagai penghasil kopi terbaik. Berikut ini adalah 5 daerah penghasil Kopi terbaik.


Flores, Nusa Tenggara Timur adalah salah satu tempat yang menghasilkan Kopi jenis Arabika. Kopi ini sama seperti yang digunakan PT Santos Jaya Abadi dalam memproduksi kopi Kapal Api yang jelas lebih enak!.



Untuk menghasilkan secangkir kopi Kapal Api yang berkualitas dan bisa dinikmati setiap hari, Buah kopi mengalami proses yang panjang, diantaranya:

  1. 1. Penanaman di daerah dengan suhu wilayah yang tepat dan memiliki curah hujan antara 1.500 sampai 2.500 mm per tahun. Kopi dapat tumbuh dengan baik pada media tanah yang subur dan gembur hingga kedalaman relatif 100 cm. Tingkat keasaman (pH) tanah yang paling bagus untuk kopi ada di rentang 5,5 sampai 6,5. 
  2.  
  3. 2. Tanaman Kopi Robusta dapat dipanen buahnya pada usia 2,5 tahun. Sementara untuk kopi Arabika membutuhkan waktu sekitar 2,5- 3 tahun hingga bisa dipanen. Waktu yang dibutuhkan kuncup bunga untuk hingga siap dipanen adalah 8 hingga 11 bulan untuk kopi robusta dan 6 hingga 8 bulan untuk kopi Arabika.
  4.  
  5. 3. Untuk mendapatkan mutu kopi dengan kualitas terbaik, buah kopi yang dipetik haruslah yang telah matang atau yang kulitnya sudah berwarna merah.
  6.  
  7. 4. Buah kopi yang terkumpul kemudian dipilah untuk menghindari adanya buah kopi yang rusak lalu kemudian disortir berdasarkan kualitasnya.
  8.  
  9. 5. Buah kopi yang sudah yang sudah melewati tahap pemilahan kemudian dijemur untuk membuat kulit buah kopi kering dan mudah dipisahkan, proses ini memakan waktu yang cukup lama yaitu hingga 3-4 minggu untuk mengurangi kadar air hingga 10-12%. Selama penjemuran, setiap 2 hingga 3 jam Buah Kopi harus rutin dibalikkan agar kering merata. Setelah dipisahkan dari kulit luarnya buah kopi tadi hanya tersisa bijinya saja (biji kopi HS). Biji kopi ini masih memiliki kulit tanduk.
  10.  
  11. 6. Agar kualitas dan aroma kopi tetap terjaga, Biji Kopi harus dikemas dan disimpan pada di dalam karung- karung yang bersih dan dijauhkan dari benda- benda yang berbau. Untuk penyimpanan dalam waktu lama karung- karung berisi kopi harus ditumpuk di atas pelet kayu setebal 10cm. Beri jarak antara karung ke dinding. Kelembaban ruangan haruslah terjaga pada posisi (RH) 70%. Biji kopi juga harus dikontrol agar terbebas dari hama dan jamur.
  12.  
  13. 7. Setelah itu biji kopi HS dimasukkan ke mesin hulling untuk memisahkan Green Bean dengan kulit tanduk.
  14.  
  15. 8. Green Bean ini selanjutnya diproses menggunakan mesin khusus roasting, disangrai pada suhu sekitar 200 derajat Celcius dalam waktu kurang lebih 15 menit untuk mendapatkan kematangan yang pas. Tahap ini juga bertujuan untuk mengurangi kadar air. Semakin rendah kadar air terkandung dalam biji kopi, semakin kuat aroma dan cita rasa kopi yang dihasilkan.
  16.  
  17. 9. Selanjutnya, untuk mendapatkan kopi yang jelas lebih enak aroma dan rasanya biji kopi akan didinginkan di dalam mesin khusus, hingga biji kopi bersuhu sekitar 50 derajat Celcius. Setelah suhu pada biji kopi mulai menurun, baru biji kopi dimasukkan ke mesin penggiling dan diproses hingga halus. Mesin ini akan memisahkan bubuk kopi yang sudah halus dan yang masih kasar, bubuk kopi yang masih kasar akan kembali digiling hingga halus.
  18.  
  19. 10. Setelah menjadi bubuk yang halus merata, mulailah mesin canggih membungkus Kopi Kapal Api agar kualitas dan aroma kopi tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen. Kopi Kapal Api juga tidak pernah berhenti untuk melakukan inovasi untuk memuaskan para pecinta kopi.
  20.  
  21. 11. Kopi Kapal Api yang sudah dalam kemasan bisa dibeli di warung atau minimarket terdekat, lalu segeralah di seduh agar tidak diseduh oleh teman. Hehe


Berikut adalah dua jenis kopi yang digunakan PT Santos Jaya Abadi untuk membuat Kopi Kapal Api yang jelas lebih enak!.


 

Memang belum lama saya menjadi pecinta kopi, berawal saat masa kuliah disaat teman- teman satu kost sering membawa kopi dari daerahnya masing- masing. Pertama kali saya ditawari bubuk kopi oleh senior yang tinggal di daerah Banten, ia membawa beberapa bungkus bubuk kopi dengan kemasan polos tanpa merk, satu bungkus ia berikan ke saya, aromanya wanginya langsung menyeruak ketika saya memegang bungkus kopi tersebut. Walau pada saat itu saya belum terlalu suka ngopi tapi penawaran itu tidak saya tolak karena penasaran dengan rasa si kopi. Setelah di seduh ternyata kopi tersebut memang nikmat, aroma kopi setelah diseduh lebih jelas tercium. Sejak saat itu saya mulai menyukai kopi, pada awalnya saya berfikiran bahwa kopi membuat kecanduan dan tidak baik bagi lambung, ternyata tidak sepenuhnya benar. Dengan jumlah konsumsi yang tepat, mengonsumsi kopi secara rutin justru membuat tubuh menjadi lebih sehat.

Pada waktu itu, kopi sudah menjadi hal yang wajib ada ketika mengerjakan tugas kelompok ataupun bersantai bareng teman kost. Beranekaragam kopi sudah saya rasakan, namun rasanya masih ada yang kurang karena hanya saya yang tidak membawa kopi dari daerah saya. Memang pada waktu itu saya tidak mengetahui bahwa 15km dari kediaman saya terdapat perkebunan Kopi (Kopi Loji). Jadi saya berinisiatif untuk membeli Kopi Bungkus di Minimarket. Merk kopi yang saya pilih adalah Kopi Kapal Api Special 380gram karena fikir saya dengan ukuran seperti ini pasti bisa dinikmati bersama- sama. Setelah saya coba seduh, ternyata rasa dari Kopi Kapal Api Special ini tak kalah nikmatnya dengan Kopi- Kopi yang pernah saya coba sebelumnya. Lalu saya terfikirkan untuk menipu teman satu kost, kopi tersebut saya masukan toples di dapur. Setelah teman- teman saya mencoba Kopi tersebut, mereka langsung bertanya siapa yang membawa Kopi tersebut. Dengan santai saya hanya menjawab, "saya yang membawanya". Mereka mengatakan bahwa Kopi yang saya bawa tersebut aromanya nikmat dan rasanya pas. Lalu saya jawab, "Ya memang, Jelas Lebih Enak kan?". Mereka hanya tertawa sambil melanjutkan menyeruput Kopi.

Beberapa hari setelah Kopi di dalam toples tersebut habis, baru saya beri tahu bahwa Kopi yang saya bawa adalah Kopi Kapal Api. Mereka sempat keheranan karena pada awalnya mereka mengira bahwa Kopi yang saya bawa adalah Kopi dari daerah saya. Ternyata kopi yang selama ini mereka seruput adalah kopi yang sering mereka temui di warung- warung. Puas sekali rasanya mengerjai mereka.


Sudah hampir 5 tahun setelah kejadian itu berlalu, saya yang dulunya hanya coba- coba, kemudian menjadi penikmat Kopi dan kini berubah menjadi pecinta kopi. Hanya Kopi Kapal Api yang bisa merubah saya hingga se-drastis itu. Untuk masalah rasa sebenarnya saya tidak terlalu selektif, biasanya saya tak pilih- pilih, namun tidak demikian untuk masalah Kopi, saya terbiasa hanya menyeruput kopi yang cocok di lidah saya. Sejauh ini Kopi Kapal Api adalah yang paling pas di lidah saya. Untuk diseduh panas ataupun dingin tetap nikmat!.

Memasuki dunia kerja yang terkadang memaksa melanjutkan pekerjaan di rumah hingga larut malam, menjadikan saya lebih dekat dengan Kopi. Sebelum saya mulai bekerja, saya selalu menyiapkan segelas Kopi untuk berjaga- jaga ketika otak saya tiba- tiba sulit untuk fokus. Hanya segelas Kopi Kapal Api Special yang bisa membuat saya rileks dan fokus untuk kembali bekerja. Aromanya yang nikmat, dan rasanya yang pas mendatangkan inspirasi untuk menyelesaikan pekerjaan.

Sesekali saya mengistirahatkan mata dengan menatap taburan bintang yang menghiasi langit, ditemani secangkir Kopi hangat di tangan kanan sambil menghirup aroma kopi yang menyapu muka. Setiap menyeruput Kopi Kapal Api Special rasanya ada aliran kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh, badan yang tadinya lesu seakan mengisi tenaganya kembali. Pekerjaan yang harusnya selesai dalam 3 hari bisa terselesaikan hanya dalam waktu semalam. Masih banyak waktu yang tersisa untuk beristirahat dan menikmati akhir pekan, yang tentunya wajib ditemani secangkir Kopi.

Akan jelas lebih enak jika menyeruput Kopi jika ditemani oleh teman- teman/ sanak saudara dan pemandangan yang indah. Semasa kuliah memang saya dan teman- teman kost sering mendaki ataupun pergi ke tempat- tempat wisata. Pendakian pertama saya adalah ke Gunung Salak melalui jalur Cibadak pada tanggal 16 Agustus 2015. Perbekalan yang paling utama adalah 2 Renceng Kopi Kapal Api Special Mix. Ketika semua perlengkapan siap kami berdoa dan langsung memulai perjalanan. Dengan kondisi cuaca yang berkabut, dinginnya pegunungan mulai menusuk. Untungnya teman saya berinisiatif membuat Kopi Kapal Api yang sudah diseduh dalam sebuah termos. Dengan bantuan Kopi inilah semangat kami untuk mendaki yang tadinya sudah lemas kembali terpacu lagi. Setibanya di puncak, kami mendirikan tenda, makan lalu memasak air untuk menyeduh Kopi. Letihnya mendaki terbayar sudah, tidak ada yang lebih Nikmat dari merasakan hangatnya Kopi Kapal Api ditemani teman- teman seperjuangan dan pemandangan nan indah. Sungguh jika perbekalan kami cukup untuk berlama- lama, kami akan betah untuk tinggal disana. Sungguh Nikmat Tuhan yang sangat sayang untuk dilewatkan. Sungguh saya sangat merindukan masa- masa itu.

Tolong perhatikan hal ini dengan baik- baik, untuk menjaga persahabatan, nikmatilah setiap tetesan kopi dengan khusyu, janganlah menyeruput kopi teman dengan cara yang sama seperti meminum air putih. Nantinya mereka akan berfikir dua kali untuk mengajakmu ngopi bareng.

Ada satu lagi yang tak kalah penting, PT Santos Jaya Abadi membuat sebuah program bernama #BaristaMuda yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya mahasiswa dan mahasiswi, mengenai kopi: mulai dari pengolahan di kebun hingga penyajian di meja-meja kedai kopi. Selain itu, PT Santos Jaya Abadi juga secara konsisten melakukan komunikasi pemasaran untuk terus meyakinkan konsumen bahwa kualitas kopi Kapal Api mampu bersaing dengan kopi-kopi luar negeri terkenal lainnya. Wow, keren banget kan!. Menurut saya sih Kopi Kapal Api pasti bisa bersaing dengan produk dari luar negeri.

#KapalApi #JelasLebihEnak #KapalApiPunyaCerita #BaristaMuda

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Wah. Makasih suhu sudah mampir di artikel sederhana saya. Hehe. Kopi Kapal Api memang Jelas Lebih Enak!

      Hapus